Hubungan Konsumsi Pangan Bayi Dan Status Gizi Orang-Tua Dengan Status Gizi Leblih Pada Bayi

badgemengetahui pola pemberian makan, konsumsi energi dan zat gizi pada bayi;

more »

just try…..

sebush media pembelajaran yang menyenangkan dan menantang pola pikir mahasiswa

Hello world!

Kuatkan Iman ku Ya Tuhan…

Itulah sebait doa yang tak pernah lupa kuucapkan setiap kali bersembahyang. Aku hidup sebagai minoritas di tengah keramaian dan perbedaan. Hal-hal sulit yang paling susah aku elakkan ialah tatkala sifat duniawi ku muncul tidak pada kondisi yang tepat. Hal ini menjadi alasan utama ku mengakhiri kisah cintaku dengan Aris. Seorang pemuda yang begitu sempurna di mataku. Dengan berat hati dan segala pertimbangan kami mengakhiri semuanya. Janji yang dahulu hanyalah janji masa lalu yang kini tiada artinya. Harapan yang sering telontar hanya ocehan belaka tanpa ada sedikit pun niat kami untuk mewujudkannya. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama tiga tahun itu kami menjalani kisah cinta dengan penuh kepalsuan. Mungkin inilah yang kami tunggu-tunggu. Saat di mana kami harus mengakhiri semua cerita indah itu. Sedih, mungkin ya, aku pun tak kuasa menahan tangis saat itu. Aris yang tampak lebih tegar ternyata juga lemah dikalahkan oleh sifat duniawinya hingga matanya pun berkaca-kaca.

“sepertinya memang hanya sampai di sini” Ucap Aris pelan.

Aku hanya menunduk sambil mengangguk. Tak sepatah katapun yang bisa aku ucapkan ketika tangan Aris yang dingin memegang tanganku. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan penuh keyakinan tiba-tiba suram seolah tengah diterpa badai yang maha dahsyat. Perlahan genggaman tangan itu lepas diikuti oleh tetesan air mataku yang tak terbendungkan.

“usap air mata itu Sitha, jangan biarkan ia membasahi mata indahmu.” kata Aris sambil memberiku selembar tissue.

“maaf” hanya kata itu yang bisa terucap sebelum aku menangis terisak. Situasi ini semakin menusuk hatiku. Memang hal inilah yang selama ini aku takutkan. Kami berdua saling menyayangi. Hanya saja rasa sayang kami terhalangi oleh sebuah pembatas yang begitu kuat, yaitu kepercayaan. Kami saling mempertahankan dan kuat pada kepercayaan masing-masing. Sebelum memutuskan untuk berpacaran, kami berdua sempat membuat janji bahwa tak ada hal yang menghalangi kami untuk tetap mempertahankan kepercayaan kami masing-masing. Sekali pun itu adalah yang yang paling berat, termasuk rasa cinta kami.

“itu pilihan kita dulu Sitha, bukannya kita sudah memutuskan bersama..” Aris kembali mencoba menenangkanku.

“ya Ris, itu merupakan bagian dari ego kita ketika itu. Kita tidak pernah memikirkan akan beratnya mengakhiri ini semua. Yang kita pikirkan hanya bagaimana kita menjalani hari-hari bersama dan berharap akan ada satu masalah yang membuat kisah kita berakhir dengan sendirinya. Tapi kenyataannya setelah tiga tahun semua tak kunjung berakhir. Setiap ada masalah selalu ada yang mengalah. Selalu kita selesaikan dengan dewasa dan tanpa emosi. Itu semakin menjauhkan kita dari kata ‘putus’. Dan sekarang kita paksakan hubungan kita untuk berakhir. Itu semua menyakitkan buat aku  Aris.” Ucapku panjang

Kini Aris yang tampak berkaca-kaca. Ketegarannya semula saat mengucapkan kata ‘putus’ telah hilang setelah mengingat bagaimana perjalanan tiga tahun ke belakang. Di mana saat kami saling mendukung. Susah senang bersama. Saling memberi semangat, saling mengingatkan beribadah, dan banyak hal yang tidak mungkin rasanya aku tulis semua. Ini adalah sebuah pelajaran yang begitu berarti bagiku. Pelajaran agar tidak menjalani apa yang tidak pernah kita yakini. Dari awal kami memang hanya berpikir untuk sekedar pacaran selayaknya bagaimana orang lain. namun setelah tiga tahun kami diingatkan oleh janji yang sudah kami ucapkan satu sama lain. ya berakhirlah kisah kami yang memang merupakan jalan terbaik untuk kami. Semoga kesalahan ini tidak pernah terulang kembali. Semoga kami bisa semakin dewasa becermin dari pelajaran ini.

“Aris, terima kasih banyak atas waktu mu selama ini. Maaf kalau banyak sekali kesalahanku yang sering menimbulkan perselisihan kecil diantara kita. Tapi semua selalu bisa kita atasi dengan kedewasaan kita” itulah kata-kata yang kuucap sebelum kami mengembalikan kalung masing-masing yang  kami kenakan sebagai bukti bahwa suatu saat kisah kami akan berakhir. Kini kami sudah tidak terikat hubungan lain, kecuali sebagai teman.

Selembar kertas terselip di buku tugas milik Aris yang aku pinjam. Tanpa sengaja terbaca olehku tulisan di atas kertas itu.

“ Maafkan hambaMu Ya Tuhan…sepertinya hamba tidak sanggup lagi menepati janji dan pantangan yang telah hamba tulis sendiri. Seorang wanita telah melulhkan mata bathin ini. Ia telah mengalahkan kekuatan Iman ini. Kini sifat duniawi seakan merebut semuanya. Ia begitu indah di mata hamba. Tak pernah sebelumnya bathin ini luluh hanya oleh seorang wanita. Ya Tuhan, hamba akan relakan janji ini bila engkau izinkan hamba untuk mengenalnya lebih jauh. Apalagi bila Engkau memeberi hamba kesempatan untuk menjaganya. Ya Tuhan, sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milikMu. Seindah apapun dia di mata hamba, namun di mata hati ini tetap Engkau yang terindah. Mohon izinkan hamba bersamanya layaknya sepasang kekasih walau hanya sebentar Ya Tuhan, karena hamba sadar bahwa kami dilahirkan di jalan yang berbeda, dengan keyakinan yang berbeda pula.”

Aku kembali menangis terisak. Sebesar itukah salahku? Membuat seseorang melepaskan janji dan pantangannya karena diriku.